Wednesday, January 16, 2013

MENGINGKARI GURU

Oleh: KH Misbahuddin Ahmad* Santri-santri …. “Mencari ilmu itu diwajibkan atas semua makhluk di dunia ini mulai dari buaian ibu sampai liang lahat.” Ilmu ibarat suatu kekayaan yang melebihi gunungan emas. Ilmu bisa membahagiakan pemiliknya dunia akhirat. Hanya saja untuk memetik kebahagian ilmu tidaklah mudah. Sekalipun nilai ujian selalu bagus, masa depan seseorang tak dapat otomatis menjadi baik karena angka-angka. Bukankah banyak orang pintar yang hidupnya sengsara akan tetapi tak sedikit orang yang memiliki keterbatasan dalam berpikir hidupnya bisa lebih baik. Fenomena yang tersebut di atas terkesan aneh. Jika dilogika, sepertinya hal itu tak mungkin terjadi tapi faktanya kondisi yang berbandinng terbalik itu memang ada. Orang bilang semua itu disebabkan oleh sebuah faktor yang tak sering disepelekan yaitu maksiat hati. Maksiat hati lebih berbahaya dari pada maksiat yang bisa terlihat oleh mata sebab maksiat yang satu ini tak dapat terdeteksi. Maksiat hati bisa dapat mengancam masa depan seseorang sebab jika dalam hatinya terdapat penyakit hati maka nur Allah akan sulit menembus hati dan akhirnya ilmu yang didapat hanya akan menjadikan kita sebagai orang yang tahu saja tanpa bisa memberi manfaat pada orang lain. Penyakit hati yang sering kita lakukan tapi jarang kita sadari adalah Nulayani atine guru (Mengingkari kehendak hati guru). Bukan hanya mengingkari guru dengan ucapan atau perbuatan tapi juga dari hal yang sangat kecil. Suara hati.. Hal itu bisa menyebabkan ilmu menjadi tidak barokah. Yang dimaksud ilmu yang barokah ialah apabila seseorang mengamalkan ilmunya, maka orang yang melihatnya ingin melakukan amaliah tersebut. Ilmu yang barokah itu bersumber dari hati yang bersih dan tidak pernah nulayani atine guru. Memang benar guru itu juga manusia biasa yang terkadang juga salah tapi tak pantas seorang murid menyebut cacatnya guru sampai melukai hatinya sementara murid belum bisa membalas jasanya. Santri-santri ….. Jangan sampai ada prasangka buruk kepada guru karena belum tentu prasangka itu benar adanya. Oleh karena itu jagalah hati kalian, jangan sampai inkar dengan guru sekalipun itu hanya inkar secara batiniah karena itulah salah satu penyebab ilmu tidak barokah. Ilmu yang tidak barokah hanya akan menjadikan hidup kita menjadi tidak bahagia. *Pengasuh pondok pesantren Mambaus Sholihin 2 Blitar

Mambaus Sholihin, Pencetak Generasi Pemimpin Masa Depan

Sejuk dan tentram itulah suasana yang dapat dirasakan saat mulai menginjakkan kaki dikawasan pondok pesantren Mambaus Sholihin 2. Pesantren yang telah ada sejak tahun 2000 terletak di desa Sumber kecamatan Sanankulon kabupaten Blitar. Pesantren ini teletak di antara sawah-sawah dan berbagai macam pepohonan yang asri. Pondok pesantren Mambaus Sholihin 2 Blitar adalah cabang dari pondok pesantren Mambaus Sholihin yang berada di desa Suci kecamatan Manyar kota Gresik di bawah asuhan KH. Masbuhin Faqih. Meski baru berusia 12, pondok pesantren Mambaus Sholihin 2 memiliki andil besar dalam perkembangan pendidikan khususnya di kabupaten Blitar. Meskipun berdiri di bawah naungan pondok pesantren yang notabene menganut sistem pendidikan salaf, Mambaus Sholihin juga menyelenggarakan pendidikan formal SMP-SMA sebagai upaya pengembangan dan tuntutan zaman. Selain itu, Mambaus Sholihin juga mengembangkan bahasa Arab dan Inggris dengan mewajibkan santri berkomunikasi dengan dua bahasa asing tersebut sebagai bekal hidup di era globalisasi yang menuntut semua orang berperilaku dan bersikap secara internasional tapi juga tetap memegang agama sebagai pondasi hidup. Pada tahun ini, Mambaus Sholihin juga membuka perguruan tinggi Institute Keislaman Abdullah Faqih (Inkafa). Perguruan tinggi ini juga merupakan cabang dari perguruan tinggi Islam Mambaus Sholihin Gresik. Karena baru terbentuk, maka Inkafa Blitar baru membuka satu jurusan Pendidikan Agama Islam. Mahasiswa yang menuntut studi di Inkafa berjumlah tiga puluh. Selama 12 tahun pondok pesantren Mambaus Sholihin telah banyak mengukir berbagai prestasi baik tingkat kabupaten, provinsi bahkan nasional. Hal ini membuktikan bahwa pondok pesantren memang layak untuk diperhitungkan sebagai salah satu lembaga pendidikan yang dapat dijadikan salah satu pilihan untuk menuntut ilmu. Selama ini Mambaus Sholihin memang benar-benar serius untuk membantu pemerintah indonesia, mencetak generasi bangsa yang tidak hanya pintar otak tapi juga cerdas secara perilaku. Mambaus Sholihin 2 diasuh oleh KH. Misbahudin Ahmad dan Hj. Shobiyah. Keduanya adalah alumni pondok pesantren Langitan Tuban dibantu oleh kelima putranya Nur Khasanah, Agus Fauzil Anam, S.E, Agus Zainul Fajri, M.Ag, Agus Moh. Al-Amin, S.Pd.I,M.M, dan Agus Ali Wafa. Pada mulanya, di desa Sumber baru ada madraasah diniyah yang dirintis oleh orang tua KH. Misbahuddin Ahmad. Nama Madrasah tersebut adalah Al-Hidayah. Setelah kedua orang tuanya wafat, madrasah diubah namanya menjadi PP. Al-Hikmah oleh sanak keluarga. Pada sat itu KH Misbahuddin Ahmad masih tinggal di Gresik. Setelah putra kedua, Agus Zainul Fajri, M.Ag lulus dari Mambaus Sholihin pusat Kiai Misbahuddin sowan kepada pengasuh Mambaus Sholihin Gresik, K.H Masbuhin Faqih untuk minta restu mengembangkan madrasah al-Hidayah Sumber menjadi pondok pesantren cabang dari pondok pesantren Mamba’us Sholihin Gresik. Setelah mendapat izin untuk mengembangkan madrasahdari pengasuh Pondok Pesantren Mambaus Sholihin Gresik. Kiai Misbahuddin minta restu kepada almarhum K.H Abdullah Faqih Langitan. Setelah restu dari kedua Kiai kharismatik tersebut, lalu berdirilah Mambaus Sholihin 2 Blitar. Sistem penyelenggaraan pendidikan di pondok pesantren Mambaus Sholihin Blitar dengan sistem boarding school (asrama). Siswa mengikuti kegiatan pendidikan full day school. Kegiatan pendidikan mambaus Sholihin melaksanakan secara penuh kurikulum pendidikan yang ditetapkan Kemendiknas dan Kemenag. Pada malam hari, para santri mengikuti madrasah diniyah sebagai pendidikan wawasan Islam. Selain pendidikan SMP-SMA dan program pendidikan bahasa asing, pondok pesantren Mambaus Sholihin juga memberikan wadah pengembang diri kepada santri dengan kgiatan ekstrakulikuler seperti kursus tata busana, tata boga, kaligrafi, banjari, drum band, jurnalistik, pagar nusa, qiro’ah dan masih banyak lagi. Penambahan program pembelajaran ini, untuk memberi bekal ketrampilan untuk semua santri agar saat terjun kemasyarakat nanti dapat digunakan dan diamalkan. Lembaga pendidikan yang diterapkan di Mambaus Sholihin memiliki peran yang sangat penting untuk membekali diri generasi muda dalam menghadapi ganasnya arus era globalisasi yag harus ditanggapi dengan bijak. Jika tidak, maka dapat merusak generasi. Maka, sampai hari ini, sistem pendidikan pesantren lah satu-satunya lembaga pendidikan yang ideal abgi generasi bangsa yang ingin tercerahkan baik secara keilmuan dan akhlak.